Cerpen Mago "Bulutangkis"


BULUTANGKIS

 Dulu, Ayah adalah seorang atlet bulu tangkis yang sangat hebat. Dia selalu menang melawan musuh-musuhnya . Begitu banyak orang yang membangga-banggakan dan memujinya. Tapi, kini saat dia sudah tua dia malah ditelantarkan oleh orang-orang bahkan kini tak ada yang mengenal dia sebagai atlet bulu tangkis. Hal itulah yang menyebabkannya kini sangat-sangat membenci olahraga itu.
Padahal, dulu aku masih ingat saat masih kecil Ayah sering mengajarkanku dan mengajak aku bermain bulu tangkis. Kecintaannya pada olahraga itu sangat besar. Aku juga masih ingat saat itu Ayah pernah berkata “Jadilah penerusku nak”.
Kecintaannya pada olahraga itu menurun padaku, aku selalu mengikuti pertandingan-pertandingan yang diadakan di sekolah dan tentunya tanpa sepengetahuan Ayah. Dan beberapa hari lagi aku juga akan mengikuti pertandingan bulu tangkis yang diadakan di tingkat nasional. Aku sendiri tidak tau kalau ternyata aku sudah di daftarkan oleh sekolah untuk mengikuti pertandingan bulu tangkis ini. Aku baru mengetahuinya belum lama dari sekarang.
Kalau sudah begini, aku tidak bisa menolak lagi. Tapi, aku juga bingung bagaimana cara mendapat persetujuan dari Ayah. Aku tidak akan bisa tenang . Ketika di rumah, kulihat Ayah sedang menonton TV, Ingin sekali aku menghampirinya. Aku diam di balik pintu kamarku sambil masih memandangi Ayah “Kalau tidak sekarang, kapan lagi aku berbicara pada Ayah. Waktu pertandingan tinggal menghitung hari”. Aku keluar dari kamar. Hari ini aku putuskan untuk berbicara pada Ayah. Entah dari mana keberanian itu muncul.  “Ayah aku mau bicara” kataku .“Duduklah dan katakan apa yang mau kamu katakan” kata Ayah. Aku pun duduk di depan Ayah. Belum apa-apa aku sudah keringat dingin. Aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi nanti setelah aku berkata kalau aku akan mengikuti pertandingan olahraga yang sangat ia benci sekarang. Aku menghela napas panjang dulu sebelum aku mengatakan hal ini “Ayah aku mau mengikuti pertandingan bulu tangkis yang diadakan di tingkat nasional” ucapku. Tanpa sadar aku berhasil mengucapkannya dengan sangat lancar. Namun. dia malah mematikan TVnya dan suasana menjadi hening. Tak ada satupun yang keluar dari mulutnya. Hanya ekspresi muka yang benar-benar marah yang ia tunjukan. Aku mendekati Ayah dan memegang tangannya “Aku minta maaf Ayah, bukan aku membantahmu. Tapi, aku mohon untuk kali ini. Ijinkan aku”. Dia melepas tanganku dengan kasar lalu berdiri “Dengar baik-baik! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengijinkanmu! Lihat aku! Apa kau mau sama seperti aku? Yang dicampakan begitu saja ketika sudah tua. Menjadi seorang atlet itu tidak akan menjamin hidupmu bahagia!” kata Ayah yang langsung meninggalkanku yang masih diam mematung.
                Aku tidak pernah melawanmu Ayah. Bahkan, aku selalu mengikuti apa maumu. Tapi sekarang aku sudah dewasa. Untuk kali ini biarkan aku yang memilih apa yang memang aku inginkan. Keputusanku menjadi seorang atlet bulu tangkis sudah bulat. Ini hidupku, yang akan menjalaninya pun aku sendiri. Aku sudah siap jika nanti aku akan bernasib sama sepertimu. Tapi sebelumnya aku akan berusaha untuk meyakinkanmu kalau aku akan tetap menjadi kebanggan mereka sampai kapanpun.
                Dan hari pertandinganpun tiba. Aku tetap memilih mengikuti pertandingan ini. Bukan karena kecintaan ku saja yang mendorong aku untuk tetap memilih pertandingan ini tapi untuk menunjukan pada Ayah kalau aku bisa sukses lewat olahraga ini. Lihat aku Ayah!       
“Aku harus fokus sebagai atlet! Lupakan permasalahan dengan Ayah sebentar!”
                Aku terus mencoba fokus di babak demi babak. Walaupun masih dengan dibayangi oleh wajah Ayah yang akan memarahiku setelah pertandingan ini selesai. Hingga akhirnya aku berhasil masuk final, Ayah. Inilah pembuktian ku pada Ayah.
Di babak final, aku berhadapan dengan Dimas pemain yang dikabarkan memiliki kemampuan main yang sangat bagus. Di set pertama, pertarungan berlangsung sangat ketat. Kami bermain dengan gerakan yang cepat, saling kejar mengejar angka tapi akhirnya Dimas yang menang di set pertama ini dengan skor 22-24 . Di set ke 2, aku tidak boleh kalah. Sepertinya tenaga ku lebih kuat dari Dimas, karena di set pertama dia sudah sangat mengeluarkan tenaganya. Benar saja. Di set kedua ini aku menang dengan skor skor 21-10. Di set ketiga aku sempat tertinggal lagi dengan skor 9-11, namun setelah perpindahan tempat pertarungan berjalan ketat kembali. Smash - smash keras terjadi hingga kedudukan menjadi imbang. Tapi, aku berhasil unggul menjadi  22-17.
Kejar-kejaran angka terjadi. Pada posisi tersebut, reli panjang terjadi. Sebuah bola tanggung dari lawan di smash oleh ku. Angka bertambah untukku. Setelah itu aku serve yang langsung di smash oleh lawan. Namun, smashnya membentur di net sehingga menambah angka untuk ku menjadi 23-22.
Aku melakukan match point. Pada posisi ini, reli panjang kembali terjadi dan akhirnya bola terakhir berhasil disambut olehku dengan smash yang sangat keras hingga berhasil membelah lapangan. Inilah akhir dari pertandingan ini. Kemenangan berhasil diraih olehku. Aku benar-benar sangat bahagia. Berlari - lari mengelilingi lapangan. “Lihat aku Ayah, ini bukan akhir tapi awal dari pembuktianku kalau aku bisa sukses!” kataku dalam hati dengan percaya diri.
                Aku berdiri di podium, betapa bahagianya hari ini. Apa yang aku impikan bisa tercapai. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal. Yaitu, Ayah. Lalu akupun keluar lapangan dengan diiringi tepuk tangan yang meriah dari guru juga teman-temanku. Tapi, untukku masih tetap saja ada yang kurang.
                Saat aku berjalan keluar, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Saat aku melihat ke arahnya, betapa kagetnya aku. Saat aku tau ternyata dia adalah Ayah. “Selamat nak, kamu menang” katanya sambil menepuk-nepuk pundakku. Tak sadar, ternyata air mataku keluar. Bukan kesedihan tapi kebahagiaan yang aku rasakan kini. Aku tidak menyangka. Ayah ada disini melihatku dan memberikan ucapan selamat. Aku lalu memeluk Ayah dan menangis bahagia di pundaknya.
“Ayah  mendukungmu nak, semangatmu tadi yang  membuat Ayah luluh. Sekarang Ayah tidak akan melarangmu lagi. Lakukan lah jika ini membuat kamu bahagia!” kata Ayah.
                Aku tersenyum bahagia di pelukan Ayah. Untuk Ayah suatu saat nanti ketika aku sudah tua, aku tidak akan membiarkan mereka memperlakukanku seperti mereka memperlakukan Ayah.  Dan membuat mereka menghargai apa yang sudah aku berikan di waktu mudaku. Dan aku akan mengangkat lagi nama baik atlet-atlet bulu tangkis yang sudah  dilupakan oleh orang-orang itu.