Artikel Mago "Budaya Komik ala Jepang"

Budaya Komik ala Jepang




Sejarah Manga

Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata “manga” digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai dan berasal dari dua huruf Cina yang artinya kira-kira gambar manusia untuk menceritakan sesuatu. Komik jepang atau yang lebih kita kenal sebagai manga ini adalah satu fenomena menarik dalam perkembangan dunia perkomikan di Indonesia. Disadari atau tidak kini manga sudah merambah bak jamur. Di toko-toko buku kita mudah untuk mendapatkan komik asal Jepang ini. Namun tahu ga kalian semua kalau ternyata sejarah komik manga ini cukup panjang.
Beberapa ahli menyimpulkan komik Jepang berasal dari zaman Edo kurang lebih 300 tahun yang lalu. Yang pasti bentuknya berbeda dengan manga yang kita kenal saat ini. Manga pada masa itu masih berupa gambar-gambar yang dilukis secara cepat dan murah oleh para seniman yang disebut dengan Otsu-e. Manga genre awal ini biasanya berupa komik satu panel (cartoon manga.

Jenis-jenis Manga Berdasarkan Pembaca

Manga itu sendiri memiliki beragam jenis, jenis ini dibagi berdasarkan pembacanya. Jenis-jenis manga berdasarkan pembacanya bisa Mago Readers liat di bawah ini.
  • Manga yang khusus ditujukan untuk anak-anak disebut kodomo (子供) — untuk anak-anak.
Manga kodomo
  • Manga yang khusus ditujukan untuk (Wanita) dewasa disebut josei (女性) (atau redikomi) — wanita.
Manga josei
  • Manga yang khusus ditujukan untuk dewasa disebut seinen (青年) — pria.
Mangan seinen
  • Manga yang khusus ditujukan untuk perempuan disebut shōjo (少女) — remaja perempuan.
Manga shojo
  • Manga yang khusus ditujukan untuk laki-laki disebut shōnen (少年) — remaja lelaki.
Manga shonen
Banyak dari jenis-jenis ini juga berlaku untuk anime dan permainan komputer Jepang.
Dua penerbit manga terbesar di Jepang adalah Shogakukan (小学館) dan Shueisha (集英社).
 

Manga Pasca Perang Dunia Kedua

Wah ternyata perjalanan komik manga ini benar-benar panjang yah. Kekalahan Jepang dalam perang dunia kedua pun membuat masyarakatnya membutuhkan hiburan-hiburang murah untuk lari sejenak dari pahitnya kehidupan pada saat itu, salah satunya melalui komik.  Meskipun demikian, awalnya merupakan hal yang sangat sulit untuk menerbitkan komik, menggingat akibat yang ditimbulkan oleh perang.  Awal dekade 1940-an beberapa penerbit  yang sudah bisa memulai usahanya pun lebih memilih untuk menerbitkan buku anak-anak ketimbang komik.

Hal ini tidak mematahkan semangat para komikus generasi itu. Mereka mencoba berkarya melalui gekiga (gambar-gambar dramatis). Lalu berkembang ke Akabon (rapor merah) yaitu komik format kecil. Kreativitas dan inovasi lah yang membuat manga bisa terus diproduksi hingga akhirnya bisa sampai seperti saat ini.
    
Manga. Tragedi? Motivasi?

Susan J. Napier, seorang pengajar dari Universitas of Texas mengatakan bahwa ada tiga aspek yang tercermin dalam kultur animasi dan komik Jepang; cerita-cerita tentang armageddon (akhir dunia), suasana pesta ala matsuri (festival-festival di Jepang) dan semangat kontemplasi serta elegi.

Neon Genesis Evangelion
Setuju banget bu Susan. Heheh. Kalau kita perhatikan memang demikian. Jepang sebagai negara yang pernah mengalami mimpi buruk terkena bom atom yang saat itu meluluh lantahkan negara tersebut. Membawa dampak tersendiri dalam komik manga. Terlihat dalam komik manga seperti Neon Genesis Evangelion karya Hideki Anno dan Yoshiyuki Sadamoto yang mengisahkan kehancuran dunia. Namun dibalik semua itu Manga juga menjadikan pengalaman buruk negara Jepang sebagai bahan kontemplasi (instropeksi) untuk bangkit dari keterpurukan dan meraih kembali kejayaan.  Motivasi lain adalah saat beberapa manga mengisahkan tentang perjuangan seorang tokoh dalam meraih impiannya seperti dalam komik Kapten Tsubasa, Eyeshield 21, dan lain sebagainya. Itu pun menjadi motivasi tersendiri bagi masyarakat Jepang.

Pastinya ada satu hal pelajaran yang dapat kita ambil dari sejarah perkembangan  manga serta penulisnya  di Jepang. Yaitu kita tidak boleh terlalu lama dalam kesedihan yang sedang mendera. Galau galauan mah udah gak jaman. kebayang kalau masyarakat Jepang kelamaan galau terus sedih sampe putus asa. Mungkin manga sekarang sudah tidak diproduksi. Itulah satu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari masyarakat Jepang. So, buat kamu para pemuda dan pemudi saatnya bangkit dan tunjukkan kualitasmu pada dunia.

Note: untuk Mago Readers yang suka sama komik, maka buku berjudul MARTABAK (Mari Kita Bahas Komik) keliling Komik Dunia karya Hafiz Alvan dkk. cocok banget buat kamu baca. Silahkan pinjem bukunya di perpustakaan daerah atau beli di toko buku terlengkap. Hehe. Bukan terdekat ya. soalnya kalau di Purwakarta kurang tau lengkap apa ngga. Deket sih iya. Hehehe.


Quotes :
   “Saat kau mulai mengambil tindakan maka akan ada dua kemungkinan yaitu berhasil atau gagal. Tapi saat kau hanya duduk dan terdiam tanpa melakukan apapun maka ada dua kemungkinan juga yaitu gagal dan gagal”

(pebri) dari berbagai sumber