Cerpen Mago "The Chemical Bonding"

The Chemical Bonding
oleh: Tasya Diah Rachmadiani (@TasyadiahR)








  Aku menghirup napas dalam-dalam sampai ke udara komplementerku. Aku duduk sambil melamun di bangku kelasku yang sudah kosong ditinggalkan oleh murid-murid yang menempatinya.
Kenapa sih pelajaran Kimia itu susah banget ? Aku enggak pernah berhasil mengerjakan setiap ulangannya. Itu sangat menyebalkan, makiku dalam hati.
         Entah apa yang membuat Kimia terasa begitu berpengaruh dalam moodku, yang pasti aku merasa malas untuk beranjak pulang ke rumah. Ingin rasanya melepas stressku karena hal-hal yang berhubungan dengan Kimia yang sangat menyebalkan itu, namun aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku lebih memilih untuk diam dan melamun di kelas, sampai ibuku menelepon dan menyuruhku pulang, lalu memarahiku karena pulang terlambat, dan membuat moodku semakin rusak parah.
        “Hei! Sedang apa kamu disini? Bukankah seharusnya kau sudah pulang?” Tiba-tiba seseorang datang dan membuyarkan lamunanku.
       “Terserah aku, dong. Aku masih ingin berlama-lama di kelas. Memangnya tidak boleh? Siapa suruh Si Kimia yang menyebalkan itu membuat moodku buruk. Kamu juga ngapain disini?” jawabku sebal sembari mencibirkan bibirku.
        “Hahaha, jadi kamu disini untuk menggalaukan ulangan harian Kimia tadi? Aku kesini untuk mengambil bukuku yang tertinggal," jawabnya dengan tawa yang membuatku merasa tersinggung sambil melangkah kebangkunya, lalu mengambil buku bertulisan “Chemistry” setebal buku Campbell biologi dari kolong mejanya.
        “Ya, aku tau kau memang pintar dalam pelajaran itu. Wajar kau tidak tahu gimana perasaanku. Selamat, ya, James Haloksi! Kau pasti mendapatkan nilai Kimia tertinggi lagi di kelas,” ucapku dengan nada menyindir.
“Terserah kamu mau mengganggapku apa. Tapi aku tidak pernah bermaksud untuk meremehkanmu,” jawabnya dengan nada canggung. Aku hanya menanggapinya dengan diam, masih kesal dengan sikapnya barusan, yang membuatku sedikit tersinggung.
        “Begini, Rubi. Sebenarnya aku sangat menyukai namamu. Namamu adalah salah satu unsur favoritku, Rubidium. Namun, aku bingung kenapa kamu sama sekali tidak menyukai pelajaran yang seharusnya kau kuasai. Bagaimana kalau begini, aku akan mengajari kamu Kimia selama 2 minggu ini, sampai kamu benar-benar menyukainya. Tapi kalau aku gagal, kamu boleh meminta apa saja yang kamu mau dariku. Bagaimana?” Tantangannya sontak membuatku terkaget. James Haloksi, orang terpintar di kelas menawari untuk mengajariku? Mimpi apa aku tadi malam?
        “Ah, tidak terimakasih. Tapi aku tidak terlalu bodoh untuk mengikuti permainan konyolmu itu,” jawabku sambil keluar dengan langkah cepat. Aku benar-benar kesal padanya.
“Aku serius! Aku akan menunggu jawabanmu besok!” teriaknya dari belakangku. Tapi aku tidak menanggapinya dengan tetap melangkah pergi meninggalkannya.
***
        Dia gila! Dia benar-benar meremehkanku! Aku tidak terima. Dasar orang sombong menyebalkan! makiku dalam hati.
            Aku merebahkan badanku di atas tempat tidurku yang berwarna putih bercorak kuning keemasan.
Tapi kalau dia benar-benar serius mau membantuku gimana? Aku memang sedang butuh bantuan sih, supaya tidak mendengar omelan dari ayah dan ibuku yang seorang Ahli Kimia. Renungku dalam hati.
Yasudah, apa salahnya dicoba? Lagipula sepertinya dia orang baik, aku harap begitu. Harapku.
***
          Bel pertanda istirahat sudah berbunyi. Aku pun berlari-lari kecil menghampiri meja Haloksi yang terletak di barisan paling depan yang menghadap papan tulis dengan sangat jelas.
“Em, aku sudah memikirkan tawaranmu tadi malam. Dan aku sangat berharap kau bisa membantuku,” ucapku to the point ketika aku sudah berdiri tepat dihadapannya.
“Apa yang membuatku berpikir kalau aku serius memberikan penawaran itu padamu?” jawabnya tanpa melihat ke arahku, terlalu fokus terhadap apa yang sedang dia tulis.
         “Oh jadi kau hanya berpura-pura gitu? Makasih telah mempermainkan aku!” jawabku sewot. Lalu bersiap untuk melangkah pergi, sesaat sebelum dia menatapku.
“Aku kan hanya bertanya, Rubi. Aku serius kok mau membantumu. Pulang sekolah kita mulai belajar, ya,” ucapnya dengan senyuman yang ringan, namun sangat hangat.
“Oh, iya,” jawabku singkat, lalu pergi meninggalkannya.
***
           “Jadi, Kesetimbangan adalah keadaan reaksi dengan laju reaksi maju atau ke kanan sama dengan laju reaksi mundur atau ke kiri. Misalnya, bensin yang dibakar mudah menghasilkan CO2 dan H2O. Jika kemudian kita perlakukan kedua zat hasil reaksi ini dengan energi yang besar, maka kita bisa mendapatkan bensin lagi,” jelasnya dengan pelan dan tegas.
          “Oh. Jadi, laju terbentuknya produk sama dengan laju penguraian reaktan?” tanyaku sambil memandang ke tulisan 2 anak panah yang berlawanan arah .
“Iya, bener banget. Sekarang kau sudah mengerti tentang kesetimbangan?” jawabnya dengan penuh antusias.
“Iya, aku sudah mengerti. Terimakasih, ya,” jawabku sambil tersenyum.
“Sudah sore, mari aku antarkan kamu pulang,” tawarnya sambil berdiri mengambil tas dan kunci motornya.
“Ah, tidak usah. Aku bisa pulang sendiri,” jawabku ragu.
“Tidak apa-apa, Rubi. Dengan senang hati aku akan mengantarmu,” jawabnya sambil tersenyum
***
            Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagiku. Karena, hari ini aku akan menghadapi ulangan harian Kimia. Sebenarnya, aku sudah tidak terlalu khawatir tentang pelajaran ini. Sudah seminggu aku belajar bersama Haloksi, aku sudah benar-benar paham tentang konsep-konsep materi Kimia.
           Bu Yanti pun datang memberikan selembar kertas berkode ‘C’ yang berisi reaksi-reaksi penyetaraan, beserta angka-angka ketetapan kesetimbangannya. Melihat Bu Yanti sudah memberikan aba-aba untuk mulai mengerjakannya, aku pun langsung mengerjakan soal demi soal dengan teliti dan hati-hati.
          Setelah satu jam, akhirnya ulangan harian Kimia pun selesai. Karena kebetulan pelajaran Kimia adalah pelajaran terakhir, maka murid-murid yang telah mengumpulkan kertas jawaban mereka, langsung bergegas pulang dengan ekspresi yang beragam.
          Aku menarik napas panjang dan berdoa semoga nilaiku kali ini tidak seburuk nilai-nilai Kimiaku yang lalu-lalu.
“Hai, bagaimana ulangannya tadi?” tiba-tiba Haloksi datang mengagetkanku.
Aku pun tertunduk lesu dengan wajah yang mengekspresikan benar-benar sudah tidak ada harapan.
“Tenang, masih ada seminggu lagi kok waktuku untuk membantumu sukses di pelajaran Kimia,” ujarnya dengan nada sedikit panik, dan terdengar canggung.
Aku pun menengadah, memandang Haloksi.
“Oksi! Aku berhasil Oksi! Aku berhasil mengerjakan semua soalnya. Semua yang kamu ajarkan padaku keluar semua, aku senang sekali,” ucapku dengan gembira. Lalu dengan refleks aku berlari memeluk Haloksi. Aku tersadar dan kaget, lalu dengan cepat aku melepas pelukanku.
          Aku melihat wajahnya tersenyum, lalu berbicara, “Selamat kalau begitu, aku senang kalau kau berhasil. Bagaimana kalau kita sekarang makan diluar?”
***
          Hari inu Bu Yanti akan mengumumkan hasil ulangan Kimia kemarin. Aku sangat tegang dan waswas. Keringat dingin berucuran dari keningku. Bu Yanti mulai menyebutkan satu persatu dari absen teratas. Saat nama James disebut, Bu Yanti memberikan selamat karena dia mendapatkan nilai sempura lagi.
Absen terus berlanjut, dari J, ke K, L, M, N, lalu huruf yang kutunggu-tunggu, R.
“Rubidium,” panggil Bu Yanti. Aku pun kaget dan langsung menatap ke arah Bu Yanti.
“Kedepan kamu!” suruhnya dengan nada marah. Aku kaget dan menuruti perintahnya dengan perasaan takut dan tegang. Aku melihat kepanikan yang sama di wajah Haloksi. Kini Bu Yanti berdiri tepat di hadapanku.
          “Ibu kecewa sama kamu. Menyontek bukanlah hal yang baik, Rubi. Ibu lebih menghargai nilai jelek tapi murni kamu kerjakan sendiri. Daripada nilai seperti ini, tapi hasil dari kecurangan!” bentaknya sambil nenunjukan kertas ujianku yang berisikan angka 100 di dalamnya.
“Maksud ibu apa? Ibu pikir aku mencontek?” jawabku tersinggung.
“Ibu tahu kamu, Rubi. Nilai-nilai Kimia kamu, ibu tahu,” ucapnya singkat.
“Asal ibu tahu, aku tidak pernah sekalipun mencontek, Bu! Itu murni hasil kerjaku sendiri! Berubah untuk kebaikan, apa itu salah?” jawabku sambil menangis. Aku tak menyangka nilai yang selama ini aku damba-dambakan malah membawa aku pada fitnah yang menyedihkan seperti ini.
         Aku pun berlari meninggalkan kelas, tanpa memedulikan pandangan teman-temanku yang kaget, jijik, iba, dan lain-lain yang tertuju padaku.
        Aku terus berlari menyusuri koridor-koridor yang lengang. Lalu aku pergi menuju halaman sekolah dan duduk di sebuah bangku panjang yang terletak dibawah pohon besar di samping lapangan basket. Aku menangis keras disana. Benar-benar menyakitkan mendengar ucapan Bu Yanti tadi.
        “Rubi...,” tiba-tiba seseorang memanggilku. Lalu aku melihat sosok Haloksi, yang terlihat berantakan. Kacamatanya miring dan bajunya keluar, terlihat sekali kalau dia baru saja berlari.
        “Ngapain kamu kesini? Aku malu bertemu denganmu, aku malu dengan teman-teman kelasku, aku malu sama Bu Yanti,” jawabku dengan tangis yang semakin keras. Lalu Haloksi duduk di sebelahku dan memandangku prihatin.
        “Walau mereka tidak percaya padamu, aku percaya padamu. Pada kemampuanmu, pada hasil yang kamu dapat. Aku tidak perduli terhadap apa yang orang lain bilang tentang kamu, aku tetap percaya padamu,” ucapnya sambil menatapku dengan tatapan yang sangat menyejukan. Seketika aku merasakan sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seperti ada sengatan-sengatan yang menyetrum dibagian hatiku.
        “Rubi, maafkan ibu karena tidak percaya dengan kemampuanmu. James sudah menjelaskan semuanya sama ibu. Ibu sekarang percaya padamu. Selamat, ya, kamu mendapatkan nilai yang sempurna kali ini,” tiba-tiba Bu Yanti dan teman-teman sekelasku sudah berdiri mengelilingi aku dan Haloksi. Mendengar ucapan Bu Yanti tadi, tangisku pun semakin menjadi-jadi. Hanya saja, kali ini tangisanku adalah tangis haru dan bahagia.
        “Terimakasih, Oksi. Terimakasih, Bu. Terimakasih semuanya,” ucapku lemah sambil terus menangis.
***
        “Enggak kerasa, ya, udah 2 minggu aku mengajarimu. Sepertinya sekarang kamu sudah lebih jago dariku,” ucap Haloksi sambil tertawa menatapku.
       “Iya, dan kamu berhasil membuatku menyukai Kimia. Oh tunggu dulu, mencintai Kimia maksudnya haha,” jawabku dengan antusias.
       “Kamu tahu enggak  kenapa aku suka namamu, Rubidium?” tanyanya tiba-tiba. Membuat aku menghentikan tawaku lalu memfokuskan pikiranku pada Haloksi.
       “Rubidium itu unsur yang sangat lembut dan ulet. Berwarna putih keperakan. Digunakan sebagai dinamogenerator, sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Karena dapat menghasilkan listrik yang dapat menerangi dunia,” ucapnya lagi dengan tatapan menerawang. Aku mendengarkannya dengan senyum yang tersungging dibibir kecilku.
         “Rubidium bereaksi cepat dengan unsur-unsur Halogen kecuali Lithium. Dan berikatan kovalen dengan oksigen. Maksudku, kamu bereaksi cepat dengan Halo dan berikatan dengan oksigen,” lanjutnya sambil menatapku dengan tatapan yang mebuatku merasa salah tingah.
“Maksudmu apa?” jawabku dengan gugup.
        “Maksudku, Rubidium itu cocok dengan unsur-unsur Halogen dan Oksigen. Namaku, Haloksi yang merupakan gabungan dari Halogen dan Oksigen. Aku sudah memperhatikanmu dari dulu. Gadis yang ceria dan lembut serta sangat rajin dalam setiap mata pelajaran, sangat membuatku tertarik. Sayangnya kau buruk dalam Kimia, pelajaran yang seharusnya kamu kuasai. Aku ingin sekali kenal dekat denganmu, namun aku tak pernah punya kesempatan itu sampai hari dimana aku menawarkan kursus khusus untukmu. Aku berharap aku bisa berikatan denganmu seperti halnya Ribidium berikatan dengan Oksigen ataupun unsur-unsur Halogen,” ucapnya dengan senyum termanisnya.
         “Aku tetap tidak mengerti,” jawabku salah tingkah.
“Baiklah, aku langsung to the point saja. Maukah kamu menjadi Rubidiumku? Menjalin ikatan denganku? Aku menyukaimu, Rubi. Kamu mau jadi pacarku?” ucapnya dengan penuh kemantapan. Dia menatapku penuh harap.
        “Aku mau jadi Rubidium kamu,” jawabku malu-malu. Aku merasakan mukaku panas dan dadaku terasa berdebar dengan keras. Mukaku pasti terlihat sangat merah, eluku dalam hati.
“Kamu terlihat sangat cantik saat malu, seperti itu,” ucapnya sambil tertawa.
         “Ah, kamu,” aku pun memukul lengannya pelan.
Lalu dia memelukku dengan erat, lalu membisikan kata “Je T’aime, Ma Rubidium.” Aku pun terseyum mendengarnya, dan memeluknya lebih erat.