Ucapan yang Dianjurkan Saat Idul Fitri

Ucapan yang Dianjurkan Saat Idul Fitri




Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H, Mago Reader!

Setiap lebaran tuh, kayaknya ada dua hal yang jadi ciri khas dan sering kita lakukan, yang pertama makan ketupat kedua ucapan maaf-maafan. Haha iyaa kaan. Ya memang di hari nan suci ini, kita perlu saling memaafkan untuk menghapus kesalahan yang kita perbuat. Meskipun enggak perlu di hari ini saja sih kita harus meminta maaf setiap melakukan kesalahan, melainkan di hari-hari biasanya pun harus kita lakukan.

Ngomong-ngomong, ucapan apa sih yang biasa kalian ucapkan saat berlebaran dengan keluarga ataupun tetangga?

Well, di artikel ini, Mago ingin bahas ucapan lebaran yang menjadi common mistake namun sering digunakan oleh masyarakat Indonesia. Lantas Mago juga akan uraikan ucapan yang lebih dianjurkan ketika hari raya tiba.

Minal Aidin wal Faizin, Seringkali Salah Kaprah

“Minal aidin wal faizin ya, mohon maaf lahir dan bathin.”
Sering gak Mago Reader mengucapkan hal tersebut ketika saling bermaafan dengan keluarga di rumah? Atau seenggaknya mendengar deh. Pasti sering kan? Hmm, Mago Reader tau arti dari kalimat tersebut?

Ucapan di atas saat ini seringkali dimaknai dengan arti yang bukan arti sebenarnya oleh masyarakat Indonesia. Mungkin sebagian dari kita menganggap bahwa ucapan tersebut kurang lebihnya sama dengan ‘mohon maaf lahir batin’ namun dalam bahasa Arab, karena sering diucapkan berdampingan dengan kalimat tersebut. Padahaaaal yah, artinya beda banget sama yang sering orang-orang maksud. Nah ini yang Mago sebut sebagai common mistake. Sebuah ungkapan yang salah kaprah, sudah salah namun biasa diucapkan dengan maksud saling memohon maaf. Terus apa gitu arti sebenarnya?

Dalam kaidah bahasa, ‘minal aidin wal faizin’ terdapat kata ‘aidin’ dan ‘faizin’. ‘Aidin’ berarti orang-orang yang kembali (kepada kesucian) dan ‘faizin’ mempunyai arti orang-orang yang menang. Sedangkan kata ‘minal’ merujuk kepada arti ‘bagian dari sesuatu’. Jadiii ucapan ‘minal aidin wal faizin’ memiliki arti lengkap ‘bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah). See, beda kan maknanya dengan yang biasa orang-orang maksud ketika mengucapkannya?

Tahu enggak Mago Reader, ucapan ini pun terpotong dari kalimat asalnya. Ucapan lengkapnya adalah dengan menambahkan Ja’alanallahu di awal kalimat, menjadi Ja’alanallahu minal aidin wal faizin, sehingga artinya menjadi; ‘Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah).

Ucapan Anjuran Para Sahabat Nabi

Secara ucapan, kalimat ini tentu tidak salah. Namun, menjadi salah dan kurang tepat ketika kita mengucapkannya dengan pemaknaan yang berbeda. Di sisi lain, ada ucapan yang lebih dianjurkan oleh para sahabat Nabi ketika Idul Fitri. Kalimat inilah yang diucapkan para sahabat Nabi yang tertulis dalam berbagai riwayat.

Ucapan tersebut adalah ‘Taqabalallahu minna wa minkum’. Arti dari kalimat ini adalah ‘Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian’. Ungkapan ini dipakai untuk saling mendoakan sesama umat muslim agar amal dan ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Ucapan inilah yang dicontohkan para sahabat Nabi ketika mereka bertemu di hari raya Idul Fitri.

Nah begitulah Mago Reader, jadi ungkapan yang dianjurkan ketika bertemu satu sama lainnya ketika hari raya adalah kita saling mendoakan satu sama lainnya dengan mengucapkan ‘Taqabalallahu minna wa minkum’. Coba deh kita pergunakan berdampingan dengan ucapan ‘Ja’alanallahu minal aidin wal faizin’. Agar kita saling mendoakan kepada sesama saudara muslim. Okeee? :)))))

Riwayat-riwayat

“Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata:
Artinya : “Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”

Ibnu Qudamah rahimahullah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain: Taqabbalallahu minnaa wa minka”
Imam Ahmad rahimahullah menyatakan : “Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)”

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tidak mengapa hukumnya bila seseorang mengucapkan kepada saudaranya saat Idul Fitri, Taqobbalallahu minna wa minkum.”

Syaikh Ibnu Ustaimin ditanya,
“Apa hukum tahniah (ucapan selamat) di hari raya? Apakah ada bentuk ucapan tertentu?”
Beliau rahimahullah menjawab,
“Hukum tahniah (ucapan selamat) di hari raya adalah boleh dan tidak ada bentuk ucapan tertentu yang dikhususkan. Karena (hukum asal-pen) setiap adat kebiasaan yang dilakukan orang itu boleh selama bukan perbuatan dosa.”
Dalam kesempatan lain beliau rahimahullah juga ditanya,
“Apa hukum berjabat tangan, berpelukan dan saling mengucapkan selamat hari raya ketika selesai shalat ied?”
Beliau rahimahullah menjawab,
“Hukum semua perbuatan ini tidaklah mengapa. Karena orang yang melakukanya tidak bermaksud untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Melainkan hanya sekedar melakukan adat dan tradisi, saling memuliakan dan menghormati. Karena selama adat tersebut tidak bertentangan dengan syariat maka hukumnya boleh.” (Majmu’Fatawa Ibni Utsaimin, 16/ 208-210)