Prosa: Eleanor pun Tahu

Eleanor pun Tahu
Oleh: Putri Alya Ramadhani (@putrram on Twitter)
kau,
kau itu bagai oasis dalam gurun sahara hatiku
kekal dan tak ada yang mampu menandingi keberadaanmu
kau itu setetes air yang membasahi klorofil daun asaku
membiarkan fatamorgana menggalir disetiap hembus harapan dan kemunafikan
membiarkan korneaku membedakan bayangan tulus yang terbiaskan satu katup matamu.
kau tak tahu?
kau itu setitik nadir yang membiarkanku hidup
membiarkanku berhalusinasi tentang degup jantungmu dalam gendang telingaku
membiarkanku merasakan gelombang dalam frekuensi karismamu yang tabu
membuatku menghisap oksigen hadirmu dan menjadikanku berbalutkan atmosfer auramu
dan kau,
kau itu mentari yang senantiasa memberikan hangatmu dalam fajar hatiku
menyeruakan cahayamu dalam kotak pandora hitam yang disebut malam
menembus galaksi bimasakti yang kalut akan kehidupan
dan menjadi poros sebuah orbit kehidupan yang pekat akan dendam dan penghianatan

Sedangkan aku?
Aku? Cih
Aku hanya seonggok danging yang terkulai lemah tanpa asa
Tergeletak tak berdaya oleh sayatan tajam penuh nista
Aku hanya rintikan hujan yang lelah menanti spektrum pelangi
Untuk melukis keindahamu dalam kuasa Zeus
aku hanya seorang medusa yang tak akan pernah mendapatkan seorang hades
dan aku,
Aku adalah sang juliet yang sedang menanti sesosok romeo dalam bayang semumu,
Menanti saat asa dibalut cinta dan berakhir dengan titik nadir yang syarat akan perih

wahai Zeus sang penguasa langit
inilah aku,
seorang gelandangan yang sedang mengemis sekeping  rasa penuh kemunafikan
selembar asa yang tak kunjung datang keajaiban
sesosok pangeran dalam negeri khayalan,
yang hidup dalam kemunafikan dan bayangan semu sebuah kehidupan

aku tahu,
Asaku rapuh, asaku terenggut.
engkau pun tahu
Asaku, secuil debu yang mengangkasa dalam Andromeda
Dan Eleanor pun tahu
Kau dan aku tak akan pernah bersama