Cerpen: Another Real Summer


Another Real Summer
Oleh: Adhy Maulana (X.7)


Ku tak ingin air mata jatuh terlalu banyak saat kau lebih memilih untuk pergi jauh dariku”.

Tak pernah kusadari jika ia adalah orang yang aku cinta dan juga orang yang akhirnya berhasil menggores luka besar dalam hatiku. Namun itu adalah sebuah pilihan yang mungkin terbaik bagi kita berdua.
       
Aku dan Rose telah menjalin hubungan kira-kira dua tahun. Semua begitu lancar tanpa ada konflik yang membayang-bayangi kita. Selama dua tahun itu semuanya begitu indah. Dia mengajariku banyak hal dan juga pengalaman yang indah yang tak pernah kulupakan. Tapi semua mulai berubah saat kita akan menghadapi Ujian Nasional. Kita jarang saling berkomunikasi karena sibuk satu sama lain. Tapi hal ini sebelumnya telah kita sepakati untuk tidak terlalu focus pada hubungan kita ini. Disekolah pun kita jarang sekali bertemu, sekali-kali bertemu mungkin saat di kantin sekolah tapi itu juga tidak lama.

        Waktu yang di tunggu-tunggupun datang. Ya Hari pertama ujian Nasional. Aku sudah menyiapkan semuanya dengan matang dan yakin untuk dapat mendapatkan hasil yang sempurna. Hp ku berdering dan kubuka itu dari Rose..

Christo, semoga kita bisa menghadapi UJIAN NASIONAL ini. Ku harap yang terbaik untuk kita.”

“Amin, Semoga kita lulus ya Rose…”

        Hari-hari yang sulit itu perlahan mulai berlalu. Walaupun aku optimis dapat mendapatkan hasil yang sempurna namun tetap saja perasaan Pesimis selalu saja hadir. Beberapa menit lagi semua ini akan berakhir. Dan… akhirnya semua itu berakhir. Semua orang mulai tampak bahagia namun tak dapat dipungkiri mereka juga khawatir tentang hasilnya. Semua orang disuruh berkumpul di lapangan sekolah. Beberapa guru mengucapkan Selamat kepada kita. Aku mencari-cari Rose diantara ratusan orang yang berkumpul di lapangan ini. Dan seketika seseorang yang tak asing lagi berteriak-teriak memanggil nama ku.

“Christ… Christ… Sini!!!”

“Rose..!”

Kita berdua saling berpelukan diantara ratusan orang yang berkumpul di lapangan itu. Sungguh ketika ia memelukku aku begitu merasakan aliran-aliran kasih sayangnya dan juga keajaiban cintanya.

“Christ, besok kita jalan-jalan yuk!”

“Oke, Rose siap…!”

        Hari itu cukup mendukung kegiatan ku hari ini. Ku bawa mobil Honda Jazz Merah ku dan melaju menuju Rumah Rose. Tak lama akhirnya aku sampai dirumahnya, dari luar aku melihat Rose telah menunggu dengan Dress Putih selutut dan juga aksesoris yang ia pakai di rambutnya yang panjang dan ikal itu. Ditambah tas gandong yang dibawa, Ia begitu cantik… Sangat cantik.

“Ayo sayang, masuk” kataku sambil membukakan pintu mobil itu
“Terimakasih.” Jawabnya sambil tersenyum

“Kita mau kemana Rose?”

“Ke bioskop, kita nonton Another Summer

“Oke Rose..”

        Mobilku berlaju menuju bioskop, di dalam mobil kita habiskan waktu dengan banyak mengobrol. Akhirnya sampai juga di bioskop dan kita mulai mengantri. Antrian cukup panjang, mungkin film ini bagus sehingga banyak orang yang rela mengantri. Film itu baru akan diputar jam 10.45, kulihat jam tanganku kini jam 10.40. Hanya beberapa menit lagi berarti. Setelah ada pemberitahuan bahwa Film akan diputar  Kami mulai mencari-cari tempat duduk kita berdua. Awalnya aku tidak menyukai film itu, namun perlahan film itu membuatku luluh juga. Film itu berceritakan tentang pasangan yang cintanya berakhir menyedihkan, layaknya Romeo & Juliet.

“Christ, sedih ya filmnya…”

“Jangan nangis sayang..”

        Rose memelukku dan kucoba untuk mengusapkan air mata yang jatuh dari kedua matanya. Film itu memakan waktu yang cukup lama sehingga setelah film itu berakhir kamipun langsung pergi mencari tempat makan. Akhirnya kita mendapatkan tempat yang cukup romantic sekali. Meja-meja itu penuh dengan lilin-lilin yang menyinari. Namun semua itu terasa sangat singkat.

“Christ kita ke Taman yuk. Kita naik perahu.” Katanya

“Baiklah..” jawabku

        Kulajukan mobilku menuju tempat yang dituju. Ke Taman yang banyak sekali kenangan-kenangan yang terukir disana. Sesaat sampai disana, kami mulai menyewa sebuah perahu kayu. Sungguh itu sangat romantic sekali bagi kita berdua. Ia duduk dihadapanku juga memandangku dengan senyum manisnya.

“Rose, aku keterima di UI” Kataku membuka pembicaraan

Seketika terlihat raut yang bahagia di wajah Rose “Benarkah? Alhamdulillah Selamat Sayang..” Jawabnya bahagia

“Makasih sayang.. Kamu dapet di ITB nya?” Kataku

“Aku ga ngambil yang di ITB, Christ.” Jawabnya murung

“Loh kenapa Rose? Katanya pengen ke sana?” Kataku heran

“Gak apa-apa. Christ sebenarnya aku mau ngomong sesuatu ke kamu….”

“Ngomong apa?” Jawabku heran

“Aku….. aku dan sekeluarga mau pindah ke UK. Kemungkinan besar kami gak akan kembali lagi disini. Disana Ayah sudah mendapatkan pekerjaan yang tetap. Dan mungkin aku juga kuliah disana.”

“A.. pa? jadi kamu mau ikut kesana juga?”

“Iya, dan mungkin…. Hubungan kita ini…. Akan berakhir Christ”

        Seketika Rose menangis dan mencoba untuk memelukku. Perlahan juga air mata keluar dari mataku. Aku jadi teringat semua scenes yang ada di Film Another Summer yang baru saja kita tonton.

“Kemungkinan aku.. dan keluarga akan pergi 3 hari lagi Christ. Tapi besok aku akan pergi ke Malaysia menjemput adikku. Maafkan aku Christ.”

“Tak bisakah kau menetap Rose?” jawabku tak kuat

“Jikalau itu terjadi aku pasti akan menetap dan akan bersamamu. Tapi itu mungkin tak akan terjadi Christ.”

“Tapi kita masih bisa berhubungan kan Rose? Ayolah 2 tahun telah kita lewati bersama. Tapi harus berakhir dengan masalah ini?” jawabku meyakinkan Rose

“Aku tak ingin kau menunggu diriku ini. Aku takut aku tak akan bisa menjadi milikmu lagi. Aku tak ingin berjanji sesuatu yang tidak pasti Christ.”
       
Sulit sekali bagiku untuk melepaskannya. Dia sudah banyak mengukir kenangan indah dalam hidupku, namun harus pergi jauh pada akhirnya.

“Ini Christ, untukmu…”

        Ia menyodorkan sebuah kotak dengan balutan kertas kado yang menghiasinya. Dan mengajakku untuk pulang. Sungguh aku tak menyangka semua ini akan berakhir ditempat dimana kita memulai juga mengakhiri. Rasa emosi sungguh tak bisa tertahankan, namun semua ini adalah takdir antara kita berdua. Dan mungkin Tuhan memiliki rencana lain. Malam ini sungguh begitu kelam sejak kejadian tadi di Taman. Di tempat tidur aku membuka sebuah kado yang ia berikan tadi padaku. Saat kubuka, ternyata itu adalah sebuah buku yang berisikan foto-foto kita berdua. Sesekali air mata membasahi pipiku. Aku berusaha untuk lebih tegar karena ku yakin ini bukanlah akhir dari segalanya. Perjalananku masih panjang…. Impianku masih banyak yang belum terwujudkan… Dan aku harus lebih kuat!.
       
Keesokan harinya, aku mengantarkannya ke Bandara. Ia tampak berbeda, kedua matanya begitu sembap, mungkin karena tadi malam ia menangis. Sebelum keberangkatannya ia memelukku. Jauh lebih lama tidak seperti biasanya. Setelah itu dia membisikka sesuatu padaku

“Terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku. Akan ku kenang selalu dirimu dan tak akan melupakan semua yang indah itu.”

          Tentu saja aku mengeluarkan air mata saat ia mulai berjalan menjauhi aku, semakin jauh dan bayangannya kini tak muncul lagi. Aku terdiam beberapa saat, tak mampu untuk berdiri menundukkan kepala dan membayangkan semua yang telah terjadi selama 2 tahun bersamanya. Aku mencoba untuk bangkit,karena ku tak ingin air mata jatuh terlalu banyak saat dia lebih memilih untuk pergi jauh dariku. Aku mulai membawa mobilku menuju Pantai. Mendengarkan ombak-ombak yang begitu ribut  sendiri dan hanya sendiri… Aku tak tau apa yang harus dilakukan sekarang. Tanpa dirinya disisiku sekarang. Sebuah lagu dari Josh Groban-Broken Vow kini membuatku terlarut dalam kesedihan. Semakin jadilah emosiku saat mendengarkan tiap bait liriknya. Tak terasa waktu kini telah terlewatkan begitu lama, Mataharipun kini perlahan tenggelam. Pelukkannya yang kuat tadi mungkin menjadi pita penghias dari buku cerita cinta kita ini yang akan segera kututup. Sayang jika semua kenangan-kenangan indah itu harus dilupakan. Kuharap aku dapat melalui masa-masa kelam ini walaupun Rose tak akan ada disisiku lagi selamanya……………….

“I LET YOU GO
I LET YOU FLY
WHY DO I KEEP ON ASKING WHY
I LET YOU GO
NOW THAT I FOUND
A WAY TO KEEP SOMEHOW
MORE THAN A BROKEN VOW”