Perokok Aktif Picu Defisit APBN? (1)





Halo readers, dalam artikel ini mago akan membahas salah satu efek merokok dilihat dari segi ekonomi lho, mungkin kebanyakan dari kita lebih sering membaca artikel seputar rokok yabg berdampak pada kesehatan atau psikis seseorang, nah kali ini mago akan membahas dari sudut pandang lain, penasaran dong?? Yuk kita baca artikel yang satu ini!

Sebagaimana yang kita ketahui sebuah negara dapat dikatakan defisit, dikarenakan biaya kesehatan masyarakat untuk pengobatan masyarakat yang sakit karena rokok lebih besar dibanding cukai rokok itu sendiri.

Lalu, apakah itu semua benar? Dengan keberagaman sudut pandang dan argumen membuat topik ini seakan tidak ada habisnya. Tapi, bagaimana ketika para ahli berbicara?

Dikutip dari berbagai sumber, dapat diambil beberapa poin penting sebagai berikut;
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang telah diundangkan sejak tahun 2004 silam ini telah berhasil dan dibutuhkan masyarakat. JKN sudah berhasil melindungi lebih 155 juta penduduk Indonesia atau 60% penduduk. Sebuah sistem terbesar di dunia yamg dikelola oleh 1 badan.

JKN bisa menjadi prospek yang panjang apabila dikelola dengan benar. JKN juga diharapkan bisa menjadi komitmen diberbagai pihak terutama pada masalah tembakau. JKN mampu memobilir Rp.60 triliun untuk BPJS Kesehatan.
Dari polling yang dilakukan, sekitar 43% responden perokok bisa menghabiskan 2 bungkus rokok perharinya. Maka dari pertimbangan (berpacu pada hasil polling) tersebut, peserta lebih banyak setuju menjadi peserta JKN.
Dr. Daeng M Faqih, SH, MH, wakil ketua pengurus besar ikatan dokter Indonesia, mengatakan, "bicara JKN gampangnya adalah duit. Kalau dihitung global itu sangat enak. Saya gak percaya kalau cukai rokok bisa digeser karena semua punya kepentingan. Negara harus jujur mau tidak mencukupi masalah uang, kalau tidak ya katakan saja. Jadi di lapangan kita bisa mencari. Tapi itupun tidak mudah kalau tidak ada komitmen. Bahkan sekarang pelayanan sudah tercukupi walaupun itu dicukup-cukupkan. Kita ini berpikir korban dari komitmen negara. Kita harus memberikan pelayanan yang memadai tapi karena dana yang gak cukup ya pasien suruh pulang dulu. Saya berharap ini dihitung yang betul. Semua peserta harusnya mendapat pelayananan yang baik. Bahkan banyak para pelayanan mengeluhkan rumah sakit kurang baik. Pemerintah harusnya memberikan jalan keluar jika tidak mempunyai duit".
Pemerintah memiliki APBN defisit setiap tahunnya. Pada tahun 2014 APBN defisit Rp.227 Triliun, pada tahun 2015 APBN ditargetkan defisit Rp.225 Triliun, dan pada tahun 2016 APBN dianggarkan defisit Rp.223 Triliun.

Ya, mungkin kita bertanya, " bagaimana cara menutupi defisit tersebut?". Sebagaimana semestinya, defisit seharusnya ditutupi dengan pinjaman luar maupun dalam negeri untuk dibayar ketika pendapatan negara dari pajak dan dari bukan pajak.
Apakah kita bisa mengandalkan itu? Jawabannya "mungkin". Namun apabila dinalarkan, karena masalah ada pada tembakau maka bukankah seharusnya dilakukan kenaikan cukai rokok dan harga rokok untuk ikut menutupi defisit itu? Selain menutupi defisit, dengan kenaikan cukai dan harga rokok juga berfungsi menekan angka penjualan rokok yang dapat mengurangi perokok aktif dan tentunya dengan berkurangan perokok aktif maka perokok pasif juga akan lebih baik hidupnya.

Note: artikel ini akan berlanjut minggu depan.

*artikel oleh: Richie Imani