Perokok Aktif Picu Defisit APBN? (2)



"Lalu, jika selama ini selalu defisit, kenapa para pengusaha rokok justru menjadi orang terkaya di Indonesia?" Pertanyaan yang menjadi perdebatan hingga kini. 

Dikutip dari berbagai sumber dapat diambil kesimpulan bahwa pembandingan "Defisit negara" vs "penghasilan pengusaha rokok" tidak lah adil. Defisit negara dikarenakan banyak hal, bukan hanya karna sakit yang disebabkan rokok. Lalu mengapa pengusaha rokok menjadi kaya? Ada perhitungan tersendiri, Indonesia merupakan 'rumput segar' bagi pengusaha rokok dikarenakan kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang bahaya rokok sehingga mereka tidak keberatan membeli barang berbahaya itu. Yang lebih ironisnya adalah sebagian besar perokok aktif adalah masyarakat kurang mampu, pelajar/pemuda di bawah umur, bahkan bayi sekalipun. Pernahkah kalian mendengar istilah "Baby Smoke"? Yap, di Indonesia sangat banyak fenomena bayi yang merokok. Bahkan bisa menghabiskan rokok lebih dari rata-rata orang dewasa. Lalu fenomena " Marlboro Man", yap sebuah tokoh iklan Marlboro yang berpakaian layaknya koboi dan terlihat gagah menjadikan pandangan para penonton bahwa rokok itu membuat Anda menjadi keren, gagah. Tapi, apakah kalau Anda sudah menderita kanker, impoten, gangguan kehamilan, atau penyakit lainnya karena rokok itu bisa membuat Anda keren? Mungkin Anda akan merasa keren dengan alat bantu kesehatan yang menempel di tubuh Anda selamanya dan keren karena merasa mampu membayar semuanya. Seandainya tidak mampu? Menyesalkah Anda?

"Saya tahu persis perusahaan rokok sudah siap untuk meninggalkan industri rokok, tapi mereka memanfaatkan situasi. Petani juga bisa mengganti tanamannya dengan tanaman lain yang lebih menghasilkan dibanding tembakau. Hanya 20% petani atau sekitar 600.000 orang petani saja yang betul-betul tergantung hidupnya pada tembakau," tutur Prof Hasbullah.

Sebagai contoh sukses, Prof Hasbullah lantas menyebutkan petani di Republik Rakyat China yang telah banyak beralih dari tembakau ke bawang putih yang ternyata lebih menguntungkan.

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Prof Hasbullah di 3 provinsi penghasil tembakau, ia menemukan bahwa rata-rata petani hanya mendapat pendapatan sekitar Rp 1,5 juta per bulan dari bertanam tembakau. Padahal kebutuhan impor Indonesia 2 kali lebih banyak ketimbang tembakau yang diekspor. Artinya, yang diuntungkan justru negara-negara yang menghasilkan tembakau namun dilarang berjualan rokok di negaranya.

Sebenarnya jawaban dari mengapa pengusaha rokok terus kokoh bertengger menjadi orang terkaya adalah karena sikap perokok aktif yang secara sengaja membeli rokok padahal rokok tidak lebih penting dari kebutuhan lainnya. Yang lebih ironis adalah karena masyarakat kurang mampu lebih banyak membeli rokok dibanding kebutuhan pokoknya.

Hitungannya adalah apabila 1 bungkus rokok seharga Rp.13000, sesuai data di atas dimana rata-rata responden menghabiskan 2 bungkus sehari maka 13000×2=26000/hari atau 26000×30=780000/bulan atau 780000×12=9360000/tahun. Angka yang fantastis bukan? Maka, mulailah dari detik ini untuk berhenti merokok dan atau hindari rokok! Hidup sehat tanpa rokok! Jadilah pemuda yang keren tanpa rokok!

*artikel oleh : Richie Imani
  sumber gambar :  http://keeptron.blogspot.co.id/2011/06/say-no-to-smoking.html